Sejarah
Jejak Kyai Tejo Leksono: Pelarian Mataram dan Pembentukan Komunitas Tejosari
Abstrak
Artikel ini menelusuri sejarah tokoh lokal yang dikenal sebagai Kyai Tejo Leksono atau Raden Mas Krama di lereng Gunung Merbabu, beserta keturunannya yang berperan dalam struktur sosial dan administrasi desa. Studi ini menggabungkan arsip administrasi Belanda, literatur kerajaan, dan tradisi lisan untuk merekonstruksi kesinambungan keturunan hingga generasi modern, termasuk hubungan mereka dengan wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Babrik.
Pendahuluan
Sejarah lokal kerap menyimpan memori kolektif yang tidak tercatat di arsip utama kerajaan. Di Tejosari, masyarakat mengenal Kyai Tejo Leksono, diyakini sebagai anak Raden Mas Alit yang melarikan diri dari konflik internal Mataram pada 1647. Artikel ini mengkaji perjalanan hidupnya, keturunan, dan pengaruhnya terhadap pembentukan struktur sosial lokal, serta keterkaitan wilayah Tejosari dengan gudang/pabrik Belanda yang ada di area sekarang Dusun Babrik.
Metodologi
Pendekatan historis-kualitatif dilakukan dengan sumber:
Dokumen sejarah Mataram (Babad Tanah Jawi)
Arsip administrasi Hindia Belanda (catatan kepala gudang Ngablak)
Arsip administrasi Desa Tejosari (kepemimpinan lurah)
Tradisi lisan dan literatur lokal Tejosari
Analisis dilakukan dengan memetakan kesinambungan keturunan, peran sosial, dan keterkaitan geografis.
Hasil Penelitian
1647: Pelarian Kyai Tejo Leksono
Pada tahun 1647, konflik internal pada masa Amangkurat I membuat Raden Mas Alit melarikan diri. Kyai Tejo Leksono, putranya, meninggalkan istana bersama pengikut setia, menempuh perjalanan hingga lereng Gunung Merbabu, dan mendirikan permukiman awal yang kelak menjadi Desa Tejosari. Ia memimpin komunitas sebagai tokoh spiritual dan sosial (Ricklefs, 2008).
1840-an: Mustowi Krama dan Gudang Belanda
Beberapa generasi kemudian, Mustowi Krama tercatat sebagai kepala gudang Belanda di Ngablak pada 1840-an. Gudang ini dikelola oleh VOC/Hindia Belanda untuk menyimpan hasil bumi, seperti kopi, gula, dan rempah. Lokasi gudang ini berdekatan dengan area yang kini dikenal sebagai Dusun Babrik; literatur lokal menyebut bahwa nama “Babrik” adalah serapan dari kata “pabrik”, menandakan hubungan historis dengan fasilitas kolonial
([Ricklefs, 2008]; History of Cirebon, 2019).
1920-an: Darjokrama dan Sowikrama
Mustowi Krama memiliki dua anak, yang tercatat dalam administrasi Belanda:
Darjokrama, sang kakak, menetap dekat gudang Belanda/Dusun Babrik dan menjadi tokoh adat serta spiritual punya anak bernama Supangat menjadi tokoh agama di wilayah tersebut
Sowikrama, sang adik, tercatat di administrasi Belanda dan pembukuan desa sebagai lurah pertama Tejosari pada 1920-an, memimpin administrasi desa dan menegaskan kesinambungan komunitas. Dan punya anak juga lurah Darjo Darmin
Jejak Keturunan Mataram yang Terlupakan
Selain garis keturunan yang tercatat, masih ada keturunan Mataram lain yang terlupakan, termasuk bangsawan atau pelarian lain yang ikut menyeberang dari istana namun hilang dari catatan resmi. Tradisi lisan masyarakat tetap menjaga ingatan akan mereka.
Diskusi
Gabungan arsip Mataram, administrasi kolonial, dan tradisi lokal menunjukkan kontinuitas sosial-spiritual dan administratif keluarga Kyai Tejo Leksono dari abad ke-17 hingga abad ke-20. Hubungan wilayah Tejosari dengan gudang Belanda menunjukkan interaksi komunitas lokal dengan kekuatan kolonial. Penelitian ini juga menekankan pentingnya tradisi lisan sebagai sumber historis yang melengkapi dokumen formal.
Kesimpulan
Kyai Tejo Leksono merupakan anak Raden Mas Alit yang melarikan diri dari Mataram dan mendirikan permukiman di Tejosari.
Mustowi Krama tercatat sebagai kepala gudang Belanda pada 1840-an, menegaskan keberadaan historis keluarga.
Darjokrama dan Sowikrama, kedua anak Mustowi, memainkan peran penting dalam spiritual/adat dan administrasi desa.
Dusun Babrik merupakan kelanjutan historis dari wilayah gudang Belanda, menunjukkan kesinambungan sosial dan geografis.
Keturunan Mataram yang terlupakan tetap hidup melalui tradisi lisan, mengisi celah sejarah formal.
Daftar Pustaka
Babad Tanah Jawi, terjemahan dan komentar historis.
Ricklefs, M.C., A History of Modern Indonesia: ca. 1300 to the present, 4th Edition, Palgrave Macmillan, 2008.
History of Cirebon: “Biografi Amangkurat I”. https://www.historyofcirebon.id/2019/02/biografi-amangkurat-i.html�
Arsip administrasi Hindia Belanda (catatan kepala gudang Ngablak, 1840-an).
Arsip administrasi Desa Tejosari (pembukuan lurah, 1920-an).
Literatur lokal dan tradisi lisan Tejosari dan sekitarnya
Komentar
Posting Komentar